Jumat, 31 Oktober 2014

Contoh Kasus Deontologi dan Teleologi

[Tugas  kelompok ]

1.      Kasus ”petrus” (penembak misterius) pada tahun 1983.
Pembahasan:
Dalam Deontologi, hal tersebut tidak dapat diterima karena pembunuhan tidak bisa dibenarkan walaupun konsekuensinya sangat menguntungkan bagi masyarakat. Jika memang seseorang patut dihukum, hal tersebut harus dilakukan menurut prosedur hukum yang resmi.
Dalam Teleologi, hal tersebut tentu dapat diterima. Walaupun cara yang dilakukan tidak manusiawi, yaitu pembunuhan. Namun, pembunuhan yang dilakukan pada saat itu memiliki tujuan yang baik, yaitu menanggulangi tingkat kejahatan yang begitu tinggi dan akibat yang muncul setelah kejadian tersebut sangat menguntungkan bagi masyarakat, tingkat kejahatan yang menurun.


2.      PT. PLN memonopoli kelistrikan nasional, tetapi mereka belum mampu secara merata dan adil memenuhi kebutuhan listrik masyarakat.
Pembahasan:
Dalam Deontologi, hal tersebut tidak dapat diterima karena PT. PLN belum mampu secara merata dan adil memenuhi kebutuhan listrik masyarakat.
Namun dalam Teleologi, hal tersebut dapat diterima karena PT. PLN memiliki tujuan yang baik yaitu memenuhi kebutuhan listrik nasional.


3.      Kasus penculikan generasi muda yang dilakukan oleh teman facebook-nya.
Pembahasan:
Dalam Deontologi, perbuatan menggunakan facebook dinilai baik karena niatnya untuk menjaga silahturahmi dan memperbanyak teman.
Akan tetapi dalam Teleologi, perbuatan tersebut tidak baik karena akibat yang ditimbulkan dari menggunakan facebook ialah ada oknum yang memanfaatkan kesempatan ini untuk penculikan.


4.      Acara amal untuk operasi bibir sumbing dalam sebuah televisi swasta.
Pembahasan:
Dalam Deontologi, tindakan tersebut tentu saja baik karena sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk membantu saudara kita yang kekurangan.

Dalam Teleologi, tindakan tersebut juga baik karena akibat dari yang dilakukan tersebut dapat menyembuhkan para pasien penderita bibir sumbing.

Rabu, 15 Oktober 2014

ETIKA UTILITARIANISME DALAM BISNIS




A.  Kriteria dan Prinsip Etika Utilitarianisme
1.     Manfaat yaitu bahwa kebijaksanaan atau tindakan itu mendatangkan manfaat atau kegunaan tertentu. Jadi, kebijaksanaan atau tindakan yang baik adalah yang menghasilkan hal yang baik. Sebaliknya, kebijaksanaan atau tindakan yang tidak baik adalah yang mendatangkan kerugian tertentu.
2.    Manfaat terbesar yaitu bahwa kebijaksanaan atau tindakan itu mendatangkan manfaat terbesar (atau dalam situasi tertentu lebih besar)dibandingkan dengan kebijaksanaan atau tindakan alternative lainnya.
3.    Manfaat terbesar bagi sebanyak mungkin orang, yaitu dengan kata lain suatu kebijaksanaan atau tindakan yang baik dan tepat dari segi etis menurut etika utilitarianisme adalah kebijaksanaan atau tindakan yang membawa manfaat terbesar bagi sebanyak mungkin orang atau sebaliknya membawa akibat merugikan yang sekecil mungkin bagi sedikit mungkin orang. Secara padat ketiga prinsip itu dapat dirumuskan sebagai berikut: Bertindaklah sedemikian rupa sehingga tindakanmu itu mendatangkan keuntungan sebesar mungkin bagi sebanyak mungkin orang.

B.  Nilai Positif Etika Utilitarianisme

1.       Rasionalitas, prinsip moral yang diajukan oleh etika utilitarianisme ini tidak didasarkan pada aturan-aturan kaku yang mungkin tidak kita pahami dan yang tidak bias kita persoalkan keabsahan.
  1. Dalam kaitannya dengan itu, utilitarianisme sangant menghargai kebebasan setiap pelaku moral. Setiap orang dibiarkan bebas untuk mengambil keputusan dan bertindak dengan hanya memberinya ketiga criteria objektif dan rasional tadi.
  2. Universalitas, yaitu berbeda dengan etika teleologi lainnya yang terutama menekankan manfaat bagi diri sendiri atau kelompok sendiri, utilitarianisme justru mengutamakan manfaat atau akibat baik dari suatu tindakan bagi banyak orang. 
C. Utilitarianisme sebagai Proses dan sebagai Standar Penilaian
1.       Etika utilitarianisme dipakai sebagai proses untuk mengambil sebuah keputusan, kebijaksanaan, ataupun untuk bertindak. Dengan kata lain, etika utilitarianisme dipakai sebagai prosedur untuk mengambil keputusan. Ia menjadi sebuah metode untuk bisa mengambil keputusan yang tepat tentang tindakan atau kebijaksanaan yang akan dilakukan.
  1. Etika utilitarianisme juga dipakai sebagai standar penilaian bai tindakan atau kebijaksanaan yang telah dilakukan. Dalam hal ini, ketiga criteria di atas lalu benar-benar dipakai sebagai criteria untuk menilai apakah suatu tindakan atau kebijaksanaan yang telah dilakukan memang baik atau tidak.
D. Analisis Keuntungan dan Kerugian
1.       Keuntungan dan kerugian (cost and benefits) Yang perlu mendapat perhatian adalah keuntungan dan kerugian bagi banyak pihak lain yang terkait dan berkepentingan, baik kelompok primer maupun sekunder. Jadi, dalam analisis ini perlu juga diperhatikan bagaimana dan sejauh mana suatu kebijaksanaan dan kegiatan bisnis suatu perusahaan membawa akibat yang menguntungkan dan merugikan bagi kreditor, konsumen, pemosok, penyalur, karyawan, masyarakat luas, dan seterusnya. Ini berarti etika utilitarianisme sangat sejalan dengan apa yang telah kita bahas sebagai pendekatan stakeholder.
  1. Seringkali terjadi bahwa analisis keuntungan dan kerugian ditempatkan dalam kerangka uang (satuan yang sangat mudah dikalkulasi). Yang juga perlu mendapat perhatian serius adalah bahwa keuntungan dan kerugian disini tidak hanya menyangkut aspek financial, melainkan juga aspek-aspek moral; hak dan kepentingan konsimen, hak karyawan, kepuasan konsumen, dsb. Jadi, dalam kerangka klasik etika utilitarianisme, manfaat harus ditafsirkan secara luas dalam kerangka kesejahteraan, kebahagiaan, keamanan sebanyak mungkin pihhak terkait yang berkepentingan.
  2. Bagi bisnis yang baik, hal yang juga mendapat perhatian dalam analisis keuntungan dan krugian adalah keuntungan dan kerugian dalam jangka panjang. Ini penting karena bias saja dalam jangka pendek sebuah kebijaksanaan dan tindakan bisnis tertentu sangat menguntungkan, tapi ternyata dalam jangka panjang merugikan atau paling kurang tidak memungkinkan perusahaan itu bertahan lama. Karena itu, benefits yang menjadi sasaran utama semua perusahaan adalah long term net benefits.
E. Kelemahan Etika Utilitarianisme dan jalan keluarnya
1.       Manfaat merupakan konsep yang begitu luas sehingga dalam kenyataan praktis akan menimbulkan kesulitan yang tidak sedikit.
  1. Etika utilitarianisme tidak pernah menganggap serius nilai suatu tindakan pada dirinya sendiri dan hanya memperhatikan niali suatu tindakan sejauh berkaitan dengan akibatnya.
  2. Etika utilitarianisme tidak pernah menganggap serius kemauan baik seseorang.
  3. Variable yang dinilai tidak semuanya dapat dikualifikasi.
  4. Seandainya ketiga kriteria dari etika utilitarianisme saling bertentangan, maka akan ada kesulitan dalam menentukan prioritas di antara ketiganya.
  5. Etika utilitarianisme membenarkan hak kelompok minoritas tertentu dikorbankan demi kepentingan mayoritas.
JALAN KELUAR :
langkah nyata yang perlu dilakukan dalam membuat sebuah kebijaksanaan bisnis adalah mengumpulkan dan mempertimbangkan alternative kebijaksanaan bisnis sebanyak-banyaknya. Semua alternative kebijaksanaan dan kegiatan itu terutama dipertimbangkan dan dinilai dalam kaitan dengan manfaat bagi kelompok-kelompok terkait yang berkepentingan atau paling kurang, alternatif yang tidak merugikan kepentingan semua kelompok terkait yang berkepentingan. Kedua, semua alternative pilihan itu perlu dinilai berdasarkan keuntungan yang akan dihasilkannya dalam kerangka luas menyangkut aspek-aspek moral. Ketiga, neraca keuntungan dibandingkan dengan kerugian, dalam aspek itu, perlu dipertimbagkan dalam kerangka jangka panjang.

Sabtu, 17 Mei 2014

Cinta tak mungkin salah pilih




Riya masih tak habis pikir,  mengapa Bisma tiba-tiba menghilang begitu saja dalam kehidupannya. Tak biasa nya Bisma tak ada kabar beberapa hari, padahal beberapa minggu ini Bisma terlihat serius dengan Riya, setiap hari mereka berkomunikasi sampe larut dan lupa waktu. Padahal Riya yakin ada perasaan yang kuat diantara mereka, setelah sekian lama berteman satu kampus, kenal baik  satu sama lain dan berujung dengan lebih dekat, meski kedekatan yang lebih dari biasa nya itu berlangsung di BBM baru beberapa bulan terakhir ini.
Tapi kenapa, tiba – tiba dia pergi tanpa kabar dan sebab, padahal tidak ada masalah apapun diantara mereka. Terakhir kali mereka BBM, Bisma mengajak Riya jalan jalan, dan Riya pun mengiyakan permintaan Bisma, tapi tidak tau kenapa Bisma tiba – tiba membatalkan janji. Itu terakhir kali kabar dari Bisma.
Entah berapa lama setelah itu, Riya tak lagi ingin memikirkannya, Riya lebih berfokus dengan kegiatan kampus dan menyibukan dirinya bersama teman – teman, dan mimilih bungkam dengan kebingungannya.
Sementara itu, hadirlah seorang cowo yang lebih baik dari Bisma yang mengisi hari-hari Riya. Awal dari pertemuan itu, tak sengaja dirumah teman SMA. Cowo itu bernama Arjuna, entahlah sejak perkenalan itu Riya hampir tak pernh merasa sedih ia terlihat lebih bahagia dan semangat.
Seiring dengan berjalan nya waktu, kedekatan dua sejoli itu semakin serius. Sore itu, Arjuna mengajak Riya ketemuan di mall untuk nonton film terbaru “Marmut Merah Jambu” film itu memang pas untuk kalangan remaja penuh cinta. Dan benar saja, setelah film itu selesai mereka tonton. Arjuna terlihat kalang kabut betapa ia ingin mengutarakan cintanya dengan Riya. Rasa itu sudah ia pendam dari awal ia bertemu. Riya pun bingung dengan tingkah Arjuna yang sangat aneh sekali, seperti ingin mengatakan sesuatu tetapi tidak tau harus memulai dari sebelah mana.
Huhh ahhh Riya benar-benar semakin terheran-heran ada apa dengan Arjuna. Riya berlalu begitu saja pulang menuju tempat parkir karena waktu menunjukan jam 8 malam dan Arjuna pun masih belum jelas mau mengatakan apa.
Beberapa menit berlalu, tiba-tiba Arjuna mengajak nya ketemuan lagi ditengah perjalanan pulang, Arjuna mengajak nya makan di Mecdi, ketika ditempat parkir ia pun beranikan diri mengatakan isi hati nya dengan gugup dan grogi luar biasa, tapi Riya coba tenang dan tak ingin terlihat seperti dia sudah menduga.
“Aku sayang sama kamu, sayang yang lebih dari teman, aku ingin lebih diantara kita, aku nyaman sama kamu, mau kah kamu menjalani nya sama aku? “
Kata-kata itu yang ternyata ingin di ucapkan dari mulut Arjuna, Riya pun tak segera menjawab, ia masih diam saja dengan sedikit senyuman. Dengan penuh cemas Arjuna pun ingin segera mendengar jawaban “iya” ....... dari mulut Riya.
Riya mengangguk, mengiyakan pertanyaan Arjuna, malam itu benar-benar indah untuk Arjuna dan Riya, setelah makan keduanya pulang dengan perasaan bahagia.
Siring dengan kebahagian Riya, teka teki menghilangnya Bisma pun terjawab, ketika Bisma tiba-tiba mengajak seorang cewe kekampus, mereka terlihat lebih dekat dan akrab, anatara Bisma dan cewe itu. Cewe yang belum sama sekali terlihat dikampus. Tapi semua itu tak menjadi masalah buar Riya, toh sekarang Riya lebih bahagia dan mendapatkan orang yang lebih baik.
Meski kekecewaan itu pernah ada, menghilang dan tiba-tiba muncul dengan cewe lain. Dan Riya mulai berfikir bahwa apa yang ia terima dulu hanyalah tak lebih dari sebuah sikap pertemanan saja, mungkin memang tak seharusnya ia menaruh harapan lebih pada Bisma. Tak semestinya Riya, melebih-lebihkan perasaanya sendiri atas perlakuan Bisma selama ini, agar rasa kecewa itu tak pernah hadir.
Dan dengan bahagia, Riya meninggalkan kisah nya tentang Bisma, menurut nya Bisma tak lebih dari sebuah pintu yang meminta untuk dikunjungi, tetapi pintu itu sendiri yang menyuruh nya keluar dan masuk ke pintu yang lain yang lebih baik dan bahagia. Riya pun menentukan pilihan nya yaitu Arjuna .............
J J J J J

Cerpen ini untuk sahabatku yg sedang berbahagia. Semoga awet dengan pacar baru nya… dan ditunggu traktirannya J


Sabtu, 26 April 2014

PENGARUH MEREK (BRAND IMAGE) TERHADAP MINAT BELI KONSUMEN TERHADAP PRODUK SUSU DANCOW


                                                                         BAB I                                                         
                                                               PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Dewasa ini dunia usaha dihadapkan dengan persaingan yang sangat ketat dan semakin sulit. Sementara konsumen dihadapkan dengan berbagai pilihan produk yang sama dengan berbagai merek. Hal ini membuat perusahaan harus bisa menentukan strategi yang tepat untuk dapat bersaing dan memenangi persaingan serta diharapkan bisa mempertahankan konsumen lama. Mempertahankan semua pelanggan yang ada pada umumnya akan lebih menguntungkan dibandingkan dengan pergantian pelanggan karena biaya untuk menarik pelanggan baru bisa lima kali lipat dari biaya mempertahankan seorang pelanggan yang sudah ada. (Kotler, 2007:207).
Brand (merek) dewasa ini berkembang menjadi sumber aset terbesar bagi perusahaan. Suatu perusahaan beroperasi untuk mendapatkan profit atau keuntungan, juga untuk mempertahankan kelangsungan hidup bisnisnya. Suatu perusahaan untuk memenangkan persaingan dituntut melakukan strategi pemasaran bagi produk-produk yang dihasilkan. Dalam kondisi semakin meningkatnya persaingan produk-produk sejenis dan perilaku konsumen yang cenderung ingin mencoba merek-merek baru yang dikeluarkan oleh perusahaan pesaing untuk mendapatkan kepuasan, manfaat yang lebih, dan memenuhi rasa
ingin tahu terhadap merek baru tersebut.
            Seiring berkembang nya jaman, semakin tingginya permintaan terhadap produk susu untuk anak-anak dari berbagai pilihan harga dan merek, dengan berbagai macam keunggulan yang di suguhkan oleh para perusahaan.
            Kendati demikian, konsumen sebagai mahluk individu akan melakukan banyak pertimbangan sebelum menentukan keputusan untuk membeli produk tersebut. Pertimbangan itu bisa berasal dari referensi teman  maupun mencoba satu persatu setiap merek dengan harga yang berbeda-beda demi menemukan produk yang pas dan tepat sesuai dengan kebutuhan dan daya beli konsumen.
            Menurut Freddy Rangkuti (2002:2) mengatakan bahwa merek merupakan janji penjual untuk secara konsisten memberikan feature, manfaat, dan jasa tertentu kepada pembeli. Merek yang baik memberikan mutu yang terbaik dan kualitas yang baik pula dengan demikian bisa memberikan dorongan untuk konsumen dalam mempengaruhi minat beli.
            Oleh karena itu, citra merek (brand image) sangatlah penting untuk meraih pangsa pasar yang diharapkan oleh perusahaan. Sesuai uraian di atas, maka penulis mengambil judul PENGARUH MEREK (BRAND IMAGE) TERHADAP MINAT BELI KONSUMEN TERHADAP PRODUK SUSU ANAK DANCOW”.

1.2.Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka permasalahan yang dapat dirumuskan adalah sebagai berikut :
“Apakah citra merek (brand image) berpengaruh pada keputusan pembelian oleh konsumen terhadap produk susu Dancow?”

1.1.Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang diatas maka peneliti merumuskan tujuan dalam penelitian ini adalah :
Untuk mengetahui apakah faktor citra merek (brand image) dapat mempengaruhi keputusan membeli oleh  konsumen.
1.2. Manfaat Penelitian
hasil penelitian ini diharapkan akan memberikan manfaat sebagai berikut :
1.2.1.      Bagi Peneliti :
pengkajian suatu masalah dari aspek ilmiah ini akan dapat memperkaya dan mempertajam daya analisis peneliti, dan hal ini akan sangat berguna untuk mengetahui faktor merek yang mempengaruhi konsumen dalam membeli popok bayi.
1.2.2.      Bagi Pengambilan Keputusan :
sebagai bahan masukan bagi perusahaan dalam menetukan produk yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan, keinginan dan selera konsumen, sehingga dapat digunakan untuk menentuan kebijakan lebih lanjut dan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk mengevaluasi dan menyempurnakan produknya dimasa yang akan datang.


1.2.3.      Bagi Perkembangan Ilmu dan Pengetahuan
sebagai bahan tambahan informasi pengetahuan dan wawasan berpikir ilmiah guna memecahkan masalah bagi peneliti selanjutnya yang berhubungan dengan masalah tersebut.

1. 6. Sistematika Penulisan
Dalam proposal ini penulis menyusun enam bab uraian, dimana dalam tiap-tiap bab dilengkapi dengan sub-sub bab masing-masing, yaitu sebagai berikut:
BAB I             Pendahuluan
Dalam bab ini penulis menjelaskan tentang latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan dan manfaat, serta sistematika penulisan.
BAB II            Tinjauan Pustaka
Dalam bab ini penulis menjelaskan teori-teori yang diperlukan untuk menjalsakan variabel pada penelitian ini. Selain itu dalam bab ini diuraikan pula mengenai penelitian terdahulu, kerangka berpikir, dan hipotesis.
BAB III          Metode Penelitian
Dalam bab ini menjelaskan tentang obyek/subyek penelitian, populasi dan simpel, jenis dan sumber data, metode pengumpulan data, uji validitas dan uji variabel, metode analisis, serta lokasi dan objek penelitian.
BAB IV          Gambaran Umum Perusahaan
Dalam bab ini menguraikan tentang gambaran umum perusahaan, yaitu sejarah perusahaan, struktur organisasi perusahaan, visi dan misi, serta hal-hal lain menyangkut perusahaan.
BAB V            Analisis Hasil dan Pembahasan
Dalam bab ini menguraikan analisis data yang telah diperoleh dalam penelitian. Analisis data yang dilakukan meliputi analisisi statistic yang digunakan untuk melakukan pengujian terhadap hipotesis penelitian.
BAB VI          Kesimpulan dan Saran
Dalam bab ini merupakan penutup dari penelitian ilmiah disajikan kesimpulan-kesimpulan serta saran-saran yang relevan dengan hasil penelitian yang telah dilakukan.



BAB II
LANDASAN TEORI
2.1. Pengertian  Pemasaran
Definisi pemasaran menurut Kotler (2007:6) dapat dibedakan menjadi definisi sosial, yaitu suatu proses sosial yang di dalamnya individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan, dan secara bebas mempertukarkan produk yang bernilai dengan pihak lain, sedangkan menurut definisi manajerial, pemasaran sering digambarkan sebagai seni menjual produk.
Sedangkan menurut Lamb Jr. et al (dalam Ogi Sulistian, 2011:21), pemasaran adalah suatu proses perencanaan dan menjalankan konsep harga, promosi, dan distribusi sejumlah ide, barang dan jasa untuk menciptakan pertukaran yang mampu memuaskan tujuan individu dan organisasi.
Dari pengertian diatas bisa ditarik kesimpulan bahwa pemasaran bukan hanya untuk mendistribusikan atau menyalurkan barang maupun jasa, tetapi juga dapat digunakan sebagai alat pemuas kebtuhan serta mengtahui keinginan konsumen dengan pertukaran yang bernilai dengan pihak lain.

2.2. Tujuan Pemasaran
Sedangkan menurut Philip Kotler (2007:6), tujuan pemasaran adalah menghasilkan standar hidup yang lebih tinggi dan agar konsumen memperoleh apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan, dan secara bebas mempertukarkan produk yang bernilai dengan pihak lain.
Selanjutnya, Peter Drucker (dalam Philip Kotler, 2007:6) mengemukakan bahwa tujuan dari pemasaran adalah mengetahui dan memahami pelanggan sedemikian rupa sehingga produk atau jasa itu cocok dengan pelanggan dan selanjutnya
mampu menjual dirinya sendiri.
            Dari dua devinisi diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa tujuan perusahaan adalah memuaskan konsumen dengan memenuhi standart hidup yang tinggi melalui penciptaan, penawaran, dn secara bebas melakukan penukaran barang yang bernilai lebih tinggi terhadap pihak lain.




2.3. Strategi Pemasaran

Menurut Benet (dalam Ogi Sulistian, 2011:23) mengemukakan bahwa strategi pemasaran merupakan pernyataan (baik secara implisit maupun eksplisit) mengenai bagaimana suatu merek atau lini produk mencapai tujuannya. Sementara itu, Tull dan Kahle (dalam Ogi Sulistian, 2011:23) mendefinisikan bahwa strategi pemasaran sebagai alat fundamental yang direncanakan untuk mencapai tujuan perusahaan dengan mengembangkan keunggulan bersaing yang berkesinambungan melalui pasar yang dimasuki dan program pemasaran yang
digunakan untuk melayani pasar sasaran tersebut.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3. 1. Variabel Penelitian
Variabel penelitian ini terdiri dari dua variabel, yaitu variabel independen/bebas dan variabel dependen/terikat. Variabel merupakan suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang, obyek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulannya. (Sugiyono, 2010:59). Variabel penelitian dapat dibagi menjadi dua, yaitu:
1. Variabel Independen/Bebas merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen. Variabel independen dalam penelitian ini adalah citra merek yang didefinisikan oleh Kotler (2007:388) sebagai seperangkat keyakinan, ide, kesan yang dimiliki oleh seseorang terhadap suatu merek. Komponen citra merek (brand image)
2. Variabel Dependen/Terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel independen. Dalam penelitian ini yang dijadikan sebagai variabel dependen adalah Minat Beli Konsumen.

3.2. Operasionalisasi Variabel

Agar penelitian ini dapat dilaksanakan sesuai dengan yang diharapkan, maka perlu dipahami berbagai unsur-unsur yang menjadi dasar dari suatu penelitian ilmiah yang termuat dalam operasionalisasi variabel penelitia.



3.3. Jenis data
1. Data Kualitatif, yaitu data yang diperoleh dalam bentuk informasi, baik secara lisan       maupun tulisan yang berkaitan dengan masalah yang diteliti.
           
2.      Data Kuantitatif, yaitu data yang diperoleh dalam bentuk angka-angka yang dapat dihitung, yang berkaitan dengan masalah yang diteliti.

3.4.Sumber Data

1. Data Primer
Data primer adalah data yang dikumpulkan dan diolah sendiri oleh peneliti langsung dari responden berupa data opini dan kuesioner yang disebarkan. Kuesioner berisi daftar pertanyaan yang terstruktur dan materinya berhubungan dengan citra merek (brand image) dan pengaruhnya terhadap minat beli konsumen.
2.      Data Sekunder
Data sekunder merupakan data yang diperoleh tidak langsung, yaitu data tersebut diperoleh dan diolah dari sumber .

3.      5. Metode Pengumpulan Data

Dalam usaha memperoleh data yang dibutuhkan, metode yang digunakan adalah:
1.      Studi kepustakaan (Library Research)
Penelitian kepustakaan (Library Research), yaitu yang dilakukan dengan membaca majalah yang berhubungan dengan masalah yang diteliti, skripsi maupun thesis sebagai acuan penelitian terdahulu, dan dengan cara browsing di internet untuk mencari artikelartikel serta jurnal-jurnal atau data-data yang dapat membantu hasil dari penelitian.
2.       Studi lapangan (Field Research)
Penelitian lapangan (Field Research), yaitu penelitian yang dilakukan dengan cara langsung ke perusahaan, untuk mendapatkan data primer melalui penyebaran kuesioner yang dibagikan kepada masyarakat mengenai pengaruh citra merek (brand image) terhadap Minat Beli Konsumen.